Pelatihan “Risk Assessment dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)”

Tim Biosafety Fakultas Kedokteran UGM

Pelatihan “Risk Assessment dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)”

Tanggal 12 November 2015 – Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

  • Sessi 1: Pelatihan Risk Assessment

Pada tanggal 12 November 2015 Tim Biosafety FakultasKedokteran UGM menggelar acara pelatihan “Risk Assessment dan APAR”. Pengenalan terhadap risk assessment dan APAR sendiri sudah dilaksanakan pada workshop yang pernah diselenggarakan oleh Tim Biosafety FakultasKedokteran UGM beberapa waktu lalu.

Pelatihan ini diselenggarakan dalam rangka menindaklanjuti dan mengevaluasi pembuatan risk assessment yang dikerjakan oleh semua laboratorium yang ada di Fakultas Kedokteran UGM. Disampingitu, untuk melatih ketrampilan menggunakan APAR staf laboran dan teknisi laboratorium-laboratorium di FakultasKedokteran UGM.  

Pelatihan dipimpin oleh Dr. Dewajani Purnomosari selaku Ketua Tim Biosafety Fakultas Kedokteran UGM dan narasumber pada sessi pelatihan “risk assessment”. Selain pendalaman materi dan diskusi tentang risk assessment, juga diberikan penjelasan mengenai pengunaan safety box untuk menampung limbah benda tajam di laboratorium (missal: jarum). Kepada setiap laboratorium diberikan sebuah safety box sebagai contoh untuk keseragaman. 

  • Sessi 2: Pelatihan APAR

Pelatihan APAR diawali denganpresentasi yang disampaikan oleh narasumber Bp.Hermasris Riyanto dari PT. Hasamindo Pratama (BREGODO PAMEKAK LATU). Presentasi cukup singkat namun padat materi. Didahului dengan penjelasan tentang fenomenaapi, meliputi definisi dan terbentuknya api serta kebakaran. Definisi kebakaran, yakni api yang tidak dibutuhkan, tidak terkendali dan tidak pada tempatnya dan kalau dibiarkan akan menjadi suatu disaster.

Berikut ini adalah ringkasan materi teori dan teknis APAR.

Fase kebakaran:

  • Ada “source energy” —> “initiation” —>“growth
  • Menjadi “flash over” (hanya butuh waktu 3-10 menit)
  • Dalam waktu 3-10 menit temperatur akan menjadi 150 ˚C, akan terjadi nyala api serentak ditandai dengan pecahnya kaca di sekitar area kebakaran (efek“back draft”).

Jika terja dititik api dalam waktu kurang dari 5 menit apa yang anda lakukan?

  • Banyak kasus kebakaran di dalamg edung terjadi karena arus listrik, misal memasang charger yang tidak benar posisinya pada stop kontak.
  • Jangan menunggu security atau orang lain untuk membantu memadamkan.
  • Jika sudah berbentuk api, bisa ditutupkan fire blanket (atau karung goni yang dicelup air)
  • Jika disebabkan oleh listrik, maka listrik langsung dimatikan.
  • Jika karena gas, segera matikan gas.

Syarat:

  1. Peralatan
  2. Ketrampilan menggunakan peralatan
  3. Mental

Sarana proteksi kebakaran:

  1. Aktif: peralatan (fire extinguisher, fire sprinkler, fire hydrant)
  2. Pasif : SOP, fire alarm, prosedur baku tanggap darurat, sarana pengendali asap, tandu.

Berdasar urutan kerja:

  1. Fire alarm
  2. Fire sprinkler
  3. Fire extinguisher
  4. Fire hydrant
  5. Fire truck

APAR mempunyai karakteristik berat<15 kg, mudah dijinjing, serta mudah dioperasionalkan oleh 1 orang oleh sebab itu disebut dengan Alat Pemadam Api Ringan

Kegagalan, bisa disebabkan oleh :

  1. Jenis tidak sesuai
  2. Ukuran tidak sesuai.
  3. Macet (tidak bertekanan, bocor, menggumpal, tundarefil)
  4. Salah penerapan
  5. Petugas (belum ditujuk, tidakt rampil)

Jenis APAR :

  1. Serbuk : untuk kebakaran dalam gedung
  2. HallonFree/AF11/Halothron 1: cocok untuk ruang komputer, operari, restoran
  3. CO2 : specialis listrik, bersih tidak meninggalkan bekas, bukan penghantar listrik, efektif untuk kebakaran B & C, bisa menahan ledakan
  4. Foam liquid/busa: untuk kebakaran klas A dan B, cocok untuk pabrik, kebakaran pesawat, bersifat merusakkan.

Syarat pemasangan & pemeliharaan tabung APAR :

  1. Mudah di lihat, dijangkau dan diambil.
  2. Jarak jangkauan
  3. Dst

Untuk memastikan tabung APAR masih berfungsi baik dilakukan uji konstruksi, yakni dengan cara ditekan dengan kekuatan 1,5 kali lebih besar dari kekuatan barangnya. Jika berubah bentuk, maka alat tersebut sudah tidak berfungsi dengan baik.

Setelah pemberian materi presentasi tentang APAR, acara pelatihan dilanjutkan dengan praktik pemadaman api yang dilakukan di lapangan terbuka. Skenario disusun dengan rapi dan menarik oleh tim dari Hasamindo Pratama, bertempat dilapangan basket Fakultas Kedokteran UGM.

Skenario meliputi simulasi kebakaran kecil dalam bentuk rentetan kebakaran dengan beberapa bentuk dan titik api serta kebakaran dengan bahan yang diperkirakan lebih sulit upaya pemadamannya karena terdiri dari bahan yang mudah terbakar dan berlapis-lapis (kayu).

Diawali dengan penjelasan teknis tentang cara penggunaan APAR, Cara memadamkan kebakaran, serta koordinasi dalam upaya pemadaman kebakaran. Terik sinar matahari yang menyengat tidak mematahkan semangat para peserta dalam praktik pemadaman kebakaran menggunakan APAR ini.

Semua peserta terlih atantusias dan bergantian mencoba menggunakan APAR dalam skenario yang berbeda-beda.

Dokumentasi pelatihan risk assessment dan penggunaan APAR berupa foto-foto dan video dapat diunduh di gallery web biosafetylabindonesia.

Trackback from your site.

Leave a comment