Workshop Biosafety IV (Workshop dan Pelatihan APAR I)

CaptureTim Biosafety Fakultas Kedoteran UGM kembali menyelenggarakan workshop dan pelatihan pemadam kebakaran pada tgl. 30 Agustus 2016 bertempat di R. Sidang Senat FK UGM Lt-2  dan lapangan basket FK UGM

Acara dimulai dengan sambutan dan pembukaan oleh ketua Tim Biosafety FK UGM, Ibu Dewajani Purnomosari, PhD. Dilanjutkan dengan penjelasan tentang “Route Evakuasi” di Gedung Radioputro (lantai 1-3). Peserta kurang lebih 30 orang dari dalam dan luar FK,  yakni dari Fakultas Kedokteran Gigi dan, F Kedokteran Hewan.

Pemateri workshop, Hermas Risriyanto, SPd dari Nasamindo Pratama. Bregodo Pamekak Latu, Yogyakarta.

Materi terdiri dari 3 tema:

  1. Pengenalan bahaya api
  2. Standar prosedur penanganan bahaya api
  3. Berbagai Kelengkapan alat pemadam kebakaran

Materi pengenalan bahaya api diawali dengan definisi api dan kebakaran serta sumber/penyebab kebakaran. Penting sekali untuk memasang “fire detector”  yang dapat mengenali bahaya jika terjadi gejala kebakaran. Jika tidak ada “fire detector” atau ada tapi tidak bekerja, api bisa berkembang  menjadi “flash over” dalam waktu 3-10 menit, rerata 3-7 menit. Hal ini merupakan titik kritis terjadinya bencana kebakaran serta kesuksesan penanganan pemadaman kebakaran. Dalam waktu 7 menit apa yang harus dikerjakan??? Kuncinya adalah “ kecepatan dan ketepatan” tindakan untuk menjadi “fire fighter”.

Secara umum, peralatan pemadam kebakaran terdapat dua jenis, yakni APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan APAB (Alat Pemadam Api Beroda). Keberhasilan pemadaman kebakaran tergantung pada jenis danukuran APAR, letak/penempatan peralatan, alat berfungsi atau tidak, dan kesiapan petugas (ketrampilan dan wewenang/penunjukkan). Berdasarkan bahan yang digunakan, terdapat berbagai macam APAR: 1) dry chemical powder (mono ammonium sulfat) hanya cocok untuk pemakaian di ruang terbuka, jangan digunakan di ruang tertutup, bersifat korosif; 2) Hallon free/AF 11/ Halothron 1, sesuai untuk ruang tertutup seperti laboratoriumm; 3) Carbon dioxide (CO2), sesuai untuk jenis kebakaran yang menjalar lewat kabel; 4) Foam liquid/busa, bahan dasar air sehingga tidak cocok untuk kebakaran di area yang ada listrik; 5) Hydrant, air bertekanan tinggi dan terua-menerus. Disarankan untuk kantor dan lab juga menyediakan “fire blanket” untuk menutupi sumber api dan untuk menahan ledakan.

Pertanyaan peserta: jika terjadi kebakaran di dalam ruang dan asap sudah memenuhi ruangan tindakan pertama apa yang harus dilakukan?

Jawaban: 1) membuat sirkulasi udara, missal dengan memecahkan kaca, menggunakan blower, dll, sehingga asap akan keluar; 2) menentukan titik api; 3) memadamkan api dengan memperkirakan kemampuan kita apakah sanggup atau tidak untuk memadamkan api tersebut.

Jika ruangan sudah penuh asap, bagaimana cara kita bisa keluar ruangan dengan aman untuk menghindari jebakan asap, yakni dengan keluar merayap di lantai karena asap akan memenuhi ruang bagian atas.

Praktik  pemdaman kebakaran dilakukan di lapangan basket Fakultas Kedokteran UGM. Peserta  praktik menggunakan alat-alat pemadam kebakaran dengan menggunakan simulasi api kebakaran.

Praktik selesai dilanjutkan dengan diskusi dengan peserta yang masih bersemangat dan antusias untuk mengetahui praktik pemadaman api jika terjadi kebakaran pada berbagai kondisi berbeda.

 

bio_1

Pembukaan workshop dan sambutan oleh Ketua Tim Biosafety FK UGM, Dra. Dewajani Purnomosari, PhD.

Capture

Briefing di lapangan sebelum praktik pemadaman api dimulai

bio_2

Praktik pemadaman api dengan “fire blanket” oleh peserta.

bio_3

Praktik pemadaman api dengan menggunakan APAR oleh peserta.

bio_4

Praktik pemadaman api dengan menggunakan APAR oleh peserta.

bio_5

Peserta pelatihan antusias untuk melakukan praktik pemadaman api dengan menggunakan APAR.

 

Trackback from your site.

Leave a comment